Kerinduan yang Tak Habis-Habis

November 24, 2008

Ibramsayah Amandit

Hikayat bulan membelah duka
kau hancurkan karang yang menjadi ombak
lantas kau berteriak tentang hidup yang kekal
sebagai tambatan menemu abadi.

Seraya dzikir tetap mengalun dari tatih langkahmu
menciumi senja yang luruh tiba-tiba
kau
pengelana di jalan yang lengang.

Dari lintasan barito yang menangis
kau kumandangkan rindu pada jiwa kelu
tepat di ranjang gunung apam
hingga semenanjung martapura, hulu sungai dan tanah datu muning.

Adalah langgam riak sungai barito
serta jajaran jungkung bibir rumah lanting di semenanjung sungai martapura
sebagai doa yang kau riwayatkan
ketika aku mulai menagis dalam ziarah kata-kata.

Ranah suaramu yang masih membara
kau riwayatkan tentang meratus
nagara dipa juga parang maya
aku tertunduk mengkaji  alur dermagamu

Lantas aku jadikan biduk
untuk pelayaranku menuju abadi.

Dari alur barito,semenanjung martapura
nagara dipa, gunung apam
tepian meratus hingga ke tanah surga.

2008

Balada Penyair Sunyi

November 24, 2008

Buat kekasihku Hamami adaby

malammu yang terjerembab, kau penyair sunyi yang menyusun abjad tanpa warna. diksimu semakin samar dimakan umur yang terus berlari. tapi di tatap matamu adalah kembara api. seakan ada seratus tahun lagi bagian umurmu.

pada masamu, kau adalah serigala kata-kata, hingga debur ombak laut merah merasa memar mengeja jejak katamu.

kini malammu adalah ziarah yang perih. belum terlupa memang, tetapi kuntum-kuntum adalah duri yang menusuk perih dalam dadamu.

penyair sunyi yang tak lagi menemu kuncup angsoka
harimu adalah perjalanan yang semakin lengang.

Oktober 2008

Atas Nama Rindu

November 24, 2008

tepat tengah malam, menyandarkan rindu pada gerimis yang sunyi. desah angin yang terpaut dingin mengantarkanku pada gemetar air suci. dinginnya nikmat, teriring do’a yang gontai menanti subuh datang. aku memelukMu di antara tangisku, erat.

lirih suara hatiku memuji, tapi nafasku masih saja selalu tersengal. sepenggal demi sepenggal aku mengatupkan dua lembar anugerah luka. hingga jiwa yang kosong melayang ke arah mata angin yang samar, itu adalah kiblat yang sempurna. subuh tetap saja masih terasa jauh.

tepat di antara salam, aku menenuMu, di atas jejaring antara nyata dan tidak. dan sejuk menyeruak dari pori-pori hati yang telah lama sembilu. adalah ziarah pertama kerinduanku.

selanjutnya aku mencari ziarah terakhir yang abadi, lewat bantaran air mata dalam do’a-do’a.

25 oktober 2008

Tentang Sebuah Kenangan.

lewat alunan lagu-lagu lama.
aku mengingat kembali masa kecil kita yang hampir terlupa. tiba-tiba wajahmu tersenyum membias dalam segelas tehku saat hari masih begitu pagi. lantas aku bergegas mengejarmu ke bekas pematang sawah, yang kini telah berubah menjadi swalayan termegah.
aku melihatmu tersenyum pada gambar-gambar iklan.

pohon akasia tempat kita berteduh dulu, telah menjadi pos satpam yang garang. bunyi baling-baling dari bambu yang dibuat ayahku telah menjelma sirine dengan lampu merah kuning. sungguh aku kecewa hanya menemu kenangan itu, begitu kelu.

jejak-jejak kita tak ada yang sempat tertinggal, aromanya pun tak mampu tertangkap. menjadi melodi yang meniriskan rindu, dari hamparan kenangan tentang kuning padi dan lebat buah mangga. yang selalu saja menjadi sebab kita menangis.

setelahnya kita akan berlari menembus takut. mencapai garis finish, adalah pelukan ibunda. nasehat yang menjadi nyanyi dalam gendang telinga kita. kau ingat, sesaat setelah senja berlalu semua telah kita lupa. begitu seterusnya.

kini
kenangan itu, terlupa bersama tuntasnya teh manisku di pagi-pagi sekali.
3 syawal 1429 H

Apakah Aku Si Camar

pada mulanya aku adalah kematian yang sunyi.
saat ditiupkan roh pengabdian aku adalah luka, menjelma burung camar di pelataran laut. menanti senja sebagai rumah kerinduan. dan angin malam akan menjadi kunang-kunang, sebab mereka adalah pertanda.

di sela karang legam aku mencoba mengaji laut kehidupan, lantas kupungut buih yang memelas. kurebahkan tangis di pasir menghampar, kuteriaki langit  bisu. saat mencumbu bulan pucat, ketika tiris hujan mulai merintik. dan kunang-kunang akan lekas mengepak pergi.

malam menjadi sunyi, debur ombak menelan lengking serigala kelaparan, kubaringkan legamnya nasib pada lamunan, semakin meninggi. di langit bintang tetangis menatap remuknya nasib. siapa berduka. angin bertiup basah saat aku teteskan kedalaman air mata. belum lagi terasa lunas pengembaraan ini.

menjelang fajar aku di tengah laut kehidupan, gelombang menerjang bagai anak panah yang menghujam. perih. sayap-sayap camarku hanya igauan, aku tak mampu terbang menaklukkan laut kehidupan. terjerambab menjadi buih. tak lagi ada nyala yang  membias menjadi kunang-kunang.

walau hanya sebagai pertanda arah pengembaraanku, membias ombak, menyetubuhi kerasnya laut kehidupan, meneriaki takdir, mengoyak belenggu pikir. sementara sayapku hanya igauan. yang lahir dari lamunan. tapi bukan sebuah pertanda penghabisan, karena besok pagi-pagi sekali aku akan menggambar takdir.

Oktober 2008

Kidung Batu Malam.

November 24, 2008

lumut-lumut menjadi jejaring atas kesunyian batu-batu
rumah-rumah kepala suku telah lama tergusur peradaban zaman
batu-batu menangis
di sisa balai yang tergusur, kepul asap dupa memangil roh nenek moyang tetap saja membau.

tambat kelana penunggang kuda
menyetubuhi ilalang yang lama meranggas
batu-batu menyusun cemburu
memandang senja yang semakin lusuh.

pada malam derik kunang-kunang sebagai lentera kesunyian
dialog sunyinya menangisi kidung bebatuan yang gelap
warna angin menjadi sahabat tanpa makna
menjadi dingin yang menusuk jantung lumut-lumut malam.

oo batu-batu kelana, kemana resah hendak kau tambatkan
karena sampan telah lama berlayar, biduknya renta dimakan ombak galau
dan dermaga mejadi terasing atas galangan yang mencari sandar
bagai nisan kehilangan ziarah.

batu-batu sandarkan resahmu
pada jejaring cintaku.

29 okt 2008

sajak-sajak cinta

November 10, 2008

Ekstase Mimpi.

Malam terdampar di kepalaku, beserta kembang kamboja yang telah lupa bau wanginya. langit berlapis-lapis, gugusan mendung bagai pengembara yang kehilangan arah, berlarian. seperti batu-batu bukit yang kehilangan sejuk pohon-pohon kasturi. lumut tak lagi menari di keraknya.

Do’a yang menjala langit pecah di lembah, sementara ritual adat perang maya telah di mulai pada penghujung senja. berkilat-kilat, adalah tanda dari gelisah yang tak lagi ada muara.

Aku terdampar di laut, layarku terbelah dengan segala duka. hatiku teriris sepi ketika mataku menabark bayangmu memburu rindu pada biduk yang lain.

2008

November 10, 2008

Diary Tentang Cinta.

ini hanya tentang pengharapan, tapi sungguh aku hanya bagai  camar yang kehilangan arah mata agin. menerbang sayap-sayap yang hampir patah sebelum sempat berlabuh. tapi aku akan selalu mengejar dermagamu, walau badai akan selalau menghempaskanku ke runcing karang-karang hatimu. biarkan remuk membelah jiwaku yang semakin menua, asalkan aku mampu menisriskan kerinduan ini pada bayang tentangmu. dan semoga saja malam tidak cepat berlalu, sebelum terlunaskan.

sungguh
bila saja air mataku,
mamapu aku tiriskan di jiwamu
terasa lunas sudah kerinduan jiwa beku
yang lama menunggu bias tanpa pertanda.

ingin rasa hati selalu membuka jendela hatimu
saat pagi menjelang
dan kita akan menyeduh kopi di beranda
tanpa anak-anak.

menelanjagi hangat matahari
sebagai sebuah pertanda kerinduan
lalu kita akan membakarnya dengan bara yang lebih menggila
tentunya saat-saat kita di beranda.

di pelataran kupu-kupu berjingkat sendu
mencumbu kamboja, yang wanginya telah kita cacap bersama
ketika rembulan tepat di atas ubun
dan gerimis tak lagi mampu membendung cahayanya.

sungguh
bila saja air mataku
mampu aku tiriskan di jiwamu
lunas sudah kerinduan yang tertunda.

tak ada yang kelu kecuali mereka yang merindu, sebagai sebuah angan yang selalu menjadi pencapaian dan penghancuran. tentunya atas dirinya dan jiwanya yang malang, dan aku selalu saja menjadi salah satu pemandian kerinduan yang menumpuk-numpuk atas dirimu wahai kembang kamboja. malam menjadi tidak sempurna rasanya, ketika aku tak menatap dunia yang selalu masih berputar.

lantas perlunasan seperti apa yang ingi kau kirimkan, andai saja aku pulang terlalu cepat. sementara hari tak mampu lagi mengulang, merana bukan. tapi aku hanya mampu berharap suatu saat akan kau kirimkan karangan bunga saat-saat malam mulai menaruh rindu kepada bulan, karena aku akan menunggumu di pelataran langit. berlebihan bukan, tapi sungguh ini hanya sebuah pengharapan atas mimpi-mimpi yang tak lekas mau menjadi pasti.

kapan kau akan melunaskan kepastian itu. agar rindu tidak menjadi batu nisan, sementara lumut akan menari-nari di sela hujan yang meniris dari langit. aku tak mampu menghapus wajah jinggamu yang membias di setiap lipatan bajuku. sungguh merana bukan. dan air mataku hanya akan menjadi dongeng kesetiaan tanpa muara yang pasti.

kau tahu,
ini bukan jaman lampau yang harus dengan kata sandi, sebagai penyampai atas nama cinta yang telah terlalu lama menangis dalam jiwa bekuku. sampai arah mana aku harus menemu dermagamu. atau angin akan menghancurkan bidukku sebelun aku sempat menambatkan kapalku di pinggiran hatimu.

apakah kau tak sempat menangkap bayang layang-layang yang selalu aku terbangkan di belantara jiwamu. sebab itu adalah tanda yang aku kirimkan dari kedalam batin yang tidak pernah merasa terluka. kau tahu. aku menyusunya dengan mimpi-mimpi yang selalu saja terasa samar. tapi aku selalu tersenyum pada kedalaman kebencianmu.

hingga tangisku menjadi aliran mata air duka.masih.

2008

kerinduan yang tertunda

November 5, 2008

Ruas malam

malam menjadi kelabu,

bersama bulan meredup,

tanpa bintang

tertikam risauMu

yang dalam

sayap-sayap rinduku mematah

lesap memaki langit

pandangi adam yang berpulang

tanpa menggendong hawa

jala hatiku, lantak

menjilma gelisah

memandang langkahnya

rinduku yang bertumpuk-tumpuk

entah

lambang apa yang kau kirim

lalu, menjadi doa

sebagai penghabisan

25 06 2008

Melukis Wajah Tuhan

setiap jengkal malam, melukis wajah tuhan

di antara makrifat-makrifat kekalNya

mengelepar jiwa yang resah

segores pun entah

lagi,

sketsa-sketsa sujud menerobos dinding

menyibak semak

membayang wajah tuhan

serasa menari dalam gemericik sungai

mengalir,

alir-mengalir

goresnya samar

masih jauh menuju sempurna

semakin mengalir

bersama alunan ayat-ayatMu

menjelma rindu,

resah, cinta dan luka

goresnya nyata.

25 06 2008

jariku tetap sufi

Oktober 28, 2008

Melayat Langit*

suara tangis mendayu-dayu

menjelma orkestra kesedihan

langit gelap, memendam risau

dari ribuan luka

berduyun tangis,

deburan air mata

lesap mendzikir resah

terbata-bata

risau-risau membatu

menunggu zaman berganti

masih, langit berduka

tangis-tangis melayat lelah

20 06 2008

* Judul Buku Kilang Sastra Batu Karaha

Sujud Duka

rebah rerumputan

menghimpun sujud bersama dingin

banjir tangis

menunggu tuhan berkelana

rindu menjilma luka

di sela ruang,

ayat-ayat hati

lesap menyayat malam

pilu

meretak jiwa, berduka

dan langit tak lagi meneduh

menjadi bara dalam dada.

21 06 2008

masih pada sufisme

Oktober 28, 2008

Ritual

bulan yang redup sebagai pertanda

membasuh alunan luka yang kita ritualkan

di antara ayat-ayat yang menjadi lilin pada gelap

hati menjadi ngilu

malam menjadi biji-biji tasbih dalam perjanjian

di antara luka yang tercipta

menelanjanginya dengan perih yang nikmat

hingga sunyi menjadi sepi.

rindu menjadi pemandian langit

tangis menjadi luka laut

resah menjadi sayat gunung

mati menjadi damai

kaki langit 2008

Orkestra risau

lengkung malam yang basah

membawa pada ruas gelisah,

adinda, di alir air matamu

ada sujud yang dalam

aku membacanya, dalam desir dadaku

saat kau tenggelam pada masa lalu

hingga membentuk retak

di tatap matamu, basah

rumput-rumput merebah pilu

menatap gejala yang kau kirim

gemerisiknya begitu asing,

adinda, eratkan dzikirmu

masih, pada malam

aku meluka atas risaumu

cahaya tak berpendar

walau purnama begitu sempurna

19 06 2008

Angan yang lusuh

Oktober 17, 2008

andai saja malam menjadi sayap-sayap bidadari

dan aku menjadi lelaki pertama yang mencumbunya

terasa tuntas perjalanan hidupku

menjadi abadi

tapi angina telah menguburkan cahaya menjadi sembilu darah

yang mengalir tak habis-habis

menjadi aroma kematian yang melenggang

di malam yang ganjil

air mataku menjadi lautan

dadaku terhempas dalam runcing malam

rebah, menggelinding, terhempas

lalu lenyap

oh

sebuah angan yang semakin terhempas

menjadi duri yang luka

tanpa kembang mawar yang lusuh

di pagi yang terasing.