Tembang Pedalaman
ooouuuuk, ooouuuuk kuok kuok
langit menanggung resah di batas senja
selepas burung-burung enggang melantunkan surah
pembuka malam,
di sudut ranting yang telah mengering
al-layl*
menjadi hamparan bulan yang meredup
di pembaringan
dan al-buruj*
menjadi perlambang surah-surah perjalanan malam
sementara liuk-liuk sungai telah menjadi parit-parit keserakahan
hutan-hutan telah menjadi hamparan batu-batu, dan
binasalah orang-orang yang membuat parit*
pada tempat yang tidak semestinya
la illahailallah
allahu akbar, allahu akbar
terbakarlah mereka yang telah merusak jiwa-jiwa perdu
sebagai pembalasan atas kemuliaan tuhan, sebab
yang mempunyai kerajaan langit dan bumi* ; Allah
dan Allah maha menyaksikan segala sesuatu*
ooouuuk, ooouuuk kuok kuok
temabang pedalaman burung-burung enggang
adalah luka.
26 Ramadhan 1429 H
Surat Kabar dari Surga
Bagi orang-orang yang mendapatkan lailatul qadar
malam yang benderang menjadi anugerah
berbisik bintang-bintang pada langit
“di antara sepuluh malam ini,
akan datang surat kabar dari surga pada malam ganjil”
bisiknya.
rumah-rumah Allah menjadi
bermegah-megahan, di tiap sajadah adalah doa
subhanallah*
air mata menjadi ibadah berlapis-lapis.
tatap menatap langit, harap mengharap malam yang paling mulia
disatu malam ganjil dari sepuluh malam yang mulia
di malam-malam ramadhan
subhanallah* kemuliaan menghampar di hati al-insaan
sungguh pada satu malam
allah kirimkan surat kabar dari surga
isinya manik-manik cinta abadi
lesap, mengerak di hati
adalah aliran sungai ibadah suci.
26 ramadhan 1429 H
Al-insaan*
sesungguhnya datang pada suatu masa tanpa dapat disebut, dan
dari setetes air mani, menjadi wujud
tertiuplah roh pada wujudnya
menjadi gembala atas dirinya.
dialirkan jalan yang lurus bagi-baginya
tapi sungguh gembala yang tak setia pada wujud
merasuk liku dilaknat yang Esa
menjadi barah luka dalam hidupnya
dijanjikan air kafur* baginya yang setia
telah dibetangkanya rantai bagi yang kafir
dan hanya al-insaan yang akan memilihnya
sebagai persinggahan akhir menjadi abadi
subhanallah*
hanya dia yang akan membalas atas apa yang dilakukan
gembala-gembala sang wujud
yang tercipta dari setetes air mani suci
adalah nasuha yang hina
menjadi mulia, sesaat ia membenamkan jalan hitamnya
dan Allah telah menyiapkan bejana-bejana emas baginya
juga air kafur dari salsabil.
maka tinggalkan yang kafir itu.
26 ramadhan 1429 H
Kabut-kabut
mereka orang-orang beriman adalah golongan kanan*
dan mereka yang kafir adalah golongan kiri* pada sebuah negeri mereka akan bertemu dan melantunkan apa yang sebenar-benarnya mereka yakini.
adalah doa-doa yang ganjil sebagai kekuatan yang kafir
dan perjuangan yang suci sebagai tameng pertahankan golongan kanan.
al-balad mula bermula dan makkah yang suci sebagai pertanda
antara yang kanan. juga yang kiri.
dan muhammad adalah cahaya. sebagai permula penghancuran si kafir
yang mendo’a keganjilan, allah telah melaknatnya
mereka yang kafir itu.
27 ramadhan 1429 H
Pada Kerinduan.
Kepada kemarau yang panjang.
adalah bait-bait puisi. sebagai doa yang tak lagi menjadi pengobat kegelisahan. antara insan atas hablumminallahnya. tetangis hanya aliran pencucian jiwa kelu, sesaat setelah mengucap nasuha. sungguh tak sempurna. sebab kata-kata telah lama meranggas.*
bila panas menggantang adalah gundah yang menjalar. lantas hujan yang meraja adalah dingin aliran darah. kelengaian air mata menjadi pertanda ketakberdayaan atas kerinduan. adalah perjalanan menuju arah yang tak pasti. amboi, alanghkah merdunya, bila tiris hujan akan cepat datang, sebab telapak kaki akan menjadi pelunas kerinduan, di ladang-ladang.
dan angin akan berhembus warna biru. di penghujung malam akan menjilma kunang-kunang, sebagai penghibur tanah-tanah yang telah berkepanjangan mengering. sebab mendung bukanlah pertanda, esok pagi akan turun hujan. kami merindukan tanah basah.
lamunan tentang ayunan cangkul dan derap langkah kerbau menarik bajak hanya kenangan. benih-benih lantak mendzikir di lumbung bisu. dan syair akan mengalun sebagai pengaduan pengharapan. pedih.
telapak kaki kami merindukan tanah basah.
*dalam sajak Hasta Indriana.
28 ramadhan 1429 H
Sepotong Dongeng.
Buat negara tercinta Indonesia
di matamu, gelombang menyala-nyala setiap aku mencoba mengkajinya. ada barah yang menggelombang saat-saat kau menatapku. entah siapa yang sengaja menitipkan barah itu padamu. aku tak pernah mau menanyakannya. sebab kau telah memberi pertanda jauh setelah perjuangan itu usai.
ganasnya sama, seperti perjuanganku dulu membasmi kompeni, dan selalu saja datang saat aku mendongeng untuk anak-anaku. tapi sungguh, aku tidak mendongeng tentangmu. sebab kuharap hanya kita yang tau tentang semua itu. juga barah yang kau hujamkan pada jantungku.
kau tahu, semua itu akan hilang bersama sinetron cengeng di tv swasta, juga secangkir kopi dari tangan istriku, dan aku tahu, mungkin sampai sekarang dia adalah duri dalam dadamu. terkadang juga akan lenyap bersama kantuk pangeran-pangeran kecilku. sungguh aku akan cepat menghapuskan dongeng tentangmu.
sebab bukan tentang sangkuriang, maling kundang, jendral sudirman, komaruddin atau naga bonar, yang selalu kau hadirkan. tapi adalah luka-luka yang semakin menjalar setiap kita bertemu pada pengibaran bendera yang kami bela. dan bidadariku selalu menagihnya lewat tatap matanya. sementara aku tetap tidak fasih menceritakan, sebab itu adalah luka.
kau tentunya ingat ketika aku berada di garis depan. bagaimana susahnya menyelamatkan selembar nyawaku untukmu, detuman demi dentuman memekakkan gendang telingaku, tetapi tekad sudah mengakar untuk menyelamatkanmu. setelah aku renta, hanya luka yang aku dapat dari setiap dongeng yang di layar tv dan koran harian.
suatu kali aku pergi ke laut, ingin sekali aku membuang cerita sejarah yang telah melenceng. sungguh, karena yang aku harapkan bukan dongeng yang membuat hidupku menangis. lantas apa yang harus aku lakukan. tolong katakan, atau aku harus cepat menyusul kawan-kawan seperjuangan dulu.
sekali lagi, dengan usiaku yang semakin mendekati tanah, dadaku semakin sesak mengingat perjuangan. tapi dongeng yang tercipta adalah luka-luka yang tak semestinya tercatat untuk anak cucu. sebab mereka harus tau yang sebenarnya. yang telah kakek moyangnya perjuangkan. tetap saja kamu tak memberikan penjelasan. sungguh kalau saja aku mampu jujur, aku akan kecewa dengan jerih payahku menyelamatkanmu.
adalah kematian yang akan menuntaskan segala luka, dari sekian luka yang kau sebarkan kepada anak cucuku.
29 ramadhan 1429 H
Si PencariMu.
malam yang gulita
rebahkan angan semu yang nelangsa
sunyinya menjadi sakit dalam relung-relung hati
sebagai ketakberdayaan atas nama pijakan.
cahaya lampu-lampu teplok telah kabur
membenamkan sejengkal harap padaMu
cahayanya seredup semangat, tapi
tetap saja di pelataran kami mencari wajahMu.
lama sekali,
tubuh-tubuh terseok menahan keresahan
yang semakin menjangkit di pelataran hati
bayangMu semakin kabur di kelopak jiwa.
o,
sebaris luka yang menua
menjadi jejak langkah yang tertinggal
setelah cahaya itu benar-benar hilang.
hilang pula semangat membara
tertimbun keresahan yang menjadi
tetapi
akan tetap mencariMu di pelataran hati.
7 ramadhan 1429 H