Pada subuh yang diam.

Oktober 17, 2008 oleh meghatruh

Kidung malam menjadi api, sebagai untaian kembang

Lelaki yang menenun kerinduan atas dirinya

Menjadi luka tak pernah usai

Saat menjelang senja yang mereguk magrib

Ada pertanda yang bisu

Yang meniriskan air mata luka

Menjadi risau di atas perjamuan yang lengang

Perindu dakit hati

Tembang malam dan secercah pertanda

Menjadi pengasingan yang lebam

Terus saja berlari tak pernah usai

Walau subuh telah berlabuh

Dan pagi akan menjadi pertaruhan yang lebih jalang

Sebagai penebus kerinduan yang perih.

loeweng (meghatruh sajak)

Oktober 15, 2008 oleh meghatruh

Tembang Pedalaman

ooouuuuk, ooouuuuk kuok kuok

langit menanggung resah di batas senja

selepas burung-burung enggang melantunkan surah

pembuka malam,

di sudut ranting yang telah mengering

al-layl*

menjadi hamparan bulan yang meredup

di pembaringan

dan al-buruj*

menjadi perlambang surah-surah perjalanan malam

sementara liuk-liuk sungai telah menjadi parit-parit keserakahan

hutan-hutan telah menjadi hamparan batu-batu, dan

binasalah orang-orang yang membuat parit*

pada tempat yang tidak semestinya

la illahailallah

allahu akbar, allahu akbar

terbakarlah mereka yang telah merusak jiwa-jiwa perdu

sebagai pembalasan atas kemuliaan tuhan, sebab

yang mempunyai kerajaan langit dan bumi* ; Allah

dan Allah maha menyaksikan segala sesuatu*

ooouuuk, ooouuuk kuok kuok

temabang pedalaman burung-burung enggang

adalah luka.

26 Ramadhan 1429 H

Surat Kabar dari Surga

Bagi orang-orang yang mendapatkan lailatul qadar

malam yang benderang menjadi anugerah

berbisik bintang-bintang pada langit

“di antara sepuluh malam ini,

akan datang surat kabar dari surga pada malam ganjil”

bisiknya.

rumah-rumah Allah menjadi

bermegah-megahan, di tiap sajadah adalah doa

subhanallah*

air mata menjadi ibadah berlapis-lapis.

tatap menatap langit, harap mengharap malam yang paling mulia

disatu malam ganjil dari sepuluh malam yang mulia

di malam-malam ramadhan

subhanallah* kemuliaan menghampar di hati al-insaan

sungguh pada satu malam

allah kirimkan surat kabar dari surga

isinya manik-manik cinta abadi

lesap, mengerak di hati

adalah aliran sungai ibadah suci.

26 ramadhan 1429 H

Al-insaan*

sesungguhnya datang pada suatu masa tanpa dapat disebut, dan

dari setetes air mani, menjadi wujud

tertiuplah roh pada wujudnya

menjadi gembala atas dirinya.

dialirkan jalan yang lurus bagi-baginya

tapi sungguh gembala yang tak setia pada wujud

merasuk liku dilaknat yang Esa

menjadi barah luka dalam hidupnya

dijanjikan air kafur* baginya yang setia

telah dibetangkanya rantai bagi yang kafir

dan hanya al-insaan yang akan memilihnya

sebagai persinggahan akhir menjadi abadi

subhanallah*

hanya dia yang akan membalas atas apa yang dilakukan

gembala-gembala sang wujud

yang tercipta dari setetes air mani suci

adalah nasuha yang hina

menjadi mulia, sesaat ia membenamkan jalan hitamnya

dan Allah telah menyiapkan bejana-bejana emas baginya

juga air kafur dari salsabil.

maka tinggalkan yang kafir itu.

26 ramadhan 1429 H

Kabut-kabut

mereka orang-orang beriman adalah golongan kanan*

dan mereka yang kafir adalah golongan kiri* pada sebuah negeri mereka akan bertemu dan melantunkan apa yang sebenar-benarnya mereka yakini.

adalah doa-doa yang ganjil sebagai kekuatan yang kafir

dan perjuangan yang suci sebagai tameng pertahankan golongan kanan.

al-balad mula bermula dan makkah yang suci sebagai pertanda

antara yang kanan. juga yang kiri.

dan muhammad adalah cahaya. sebagai permula penghancuran si kafir

yang mendo’a keganjilan, allah telah melaknatnya

mereka yang kafir itu.

27 ramadhan 1429 H

Pada Kerinduan.

Kepada kemarau yang panjang.

adalah bait-bait puisi. sebagai doa yang tak lagi menjadi pengobat kegelisahan. antara insan atas hablumminallahnya. tetangis hanya aliran pencucian jiwa kelu, sesaat setelah mengucap nasuha. sungguh tak sempurna. sebab kata-kata telah lama meranggas.*

bila panas menggantang adalah gundah yang menjalar. lantas hujan yang meraja adalah dingin aliran darah. kelengaian air mata menjadi pertanda ketakberdayaan atas kerinduan. adalah perjalanan menuju arah yang tak pasti. amboi, alanghkah merdunya, bila tiris hujan akan cepat datang, sebab telapak kaki akan menjadi pelunas kerinduan, di ladang-ladang.

dan angin akan berhembus warna biru. di penghujung malam akan menjilma kunang-kunang, sebagai penghibur tanah-tanah yang telah berkepanjangan mengering. sebab mendung bukanlah pertanda, esok pagi akan turun hujan. kami merindukan tanah basah.

lamunan tentang ayunan cangkul dan derap langkah kerbau menarik bajak hanya kenangan. benih-benih lantak mendzikir di lumbung bisu. dan syair akan mengalun sebagai pengaduan pengharapan. pedih.

telapak kaki kami merindukan tanah basah.

*dalam sajak Hasta Indriana.

28 ramadhan 1429 H

Sepotong Dongeng.

Buat negara tercinta Indonesia

di matamu, gelombang menyala-nyala setiap aku mencoba mengkajinya. ada barah yang menggelombang saat-saat kau menatapku. entah siapa yang sengaja menitipkan barah itu padamu. aku tak pernah mau menanyakannya. sebab kau telah memberi pertanda jauh setelah perjuangan itu usai.

ganasnya sama, seperti perjuanganku dulu membasmi kompeni, dan selalu saja datang saat aku mendongeng untuk anak-anaku. tapi sungguh, aku tidak mendongeng tentangmu. sebab kuharap hanya kita yang tau tentang semua itu. juga barah yang kau hujamkan pada jantungku.

kau tahu, semua itu akan hilang bersama sinetron cengeng di tv swasta, juga secangkir kopi dari tangan istriku, dan aku tahu, mungkin sampai sekarang dia adalah duri dalam dadamu. terkadang juga akan lenyap bersama kantuk pangeran-pangeran kecilku. sungguh aku akan cepat menghapuskan dongeng tentangmu.

sebab bukan tentang sangkuriang, maling kundang, jendral sudirman, komaruddin atau naga bonar, yang selalu kau hadirkan. tapi adalah luka-luka yang semakin menjalar setiap kita bertemu pada pengibaran bendera yang kami bela. dan bidadariku selalu menagihnya lewat tatap matanya. sementara aku tetap tidak fasih menceritakan, sebab itu adalah luka.

kau tentunya ingat ketika aku berada di garis depan. bagaimana susahnya menyelamatkan selembar nyawaku untukmu, detuman demi dentuman memekakkan gendang telingaku, tetapi tekad sudah mengakar untuk menyelamatkanmu. setelah aku renta, hanya luka yang aku dapat dari setiap dongeng yang di layar tv dan koran harian.

suatu kali aku pergi ke laut, ingin sekali aku membuang cerita sejarah yang telah melenceng. sungguh, karena yang aku harapkan bukan dongeng yang membuat hidupku menangis. lantas apa yang harus aku lakukan. tolong katakan, atau aku harus cepat menyusul kawan-kawan seperjuangan dulu.

sekali lagi, dengan usiaku yang semakin mendekati tanah, dadaku semakin sesak mengingat perjuangan. tapi dongeng yang tercipta adalah luka-luka yang tak semestinya tercatat untuk anak cucu. sebab mereka harus tau yang sebenarnya. yang telah kakek moyangnya perjuangkan. tetap saja kamu tak memberikan penjelasan. sungguh kalau saja aku mampu jujur, aku akan kecewa dengan jerih payahku menyelamatkanmu.

adalah kematian yang akan menuntaskan segala luka, dari sekian luka yang kau sebarkan kepada anak cucuku.

29 ramadhan 1429 H

Si PencariMu.

malam yang gulita

rebahkan angan semu yang nelangsa

sunyinya menjadi sakit dalam relung-relung hati

sebagai ketakberdayaan atas nama pijakan.

cahaya lampu-lampu teplok telah kabur

membenamkan sejengkal harap padaMu

cahayanya seredup semangat, tapi

tetap saja di pelataran kami mencari wajahMu.

lama sekali,

tubuh-tubuh terseok menahan keresahan

yang semakin menjangkit di pelataran hati

bayangMu semakin kabur di kelopak jiwa.

o,

sebaris luka yang menua

menjadi jejak langkah yang tertinggal

setelah cahaya itu benar-benar hilang.

hilang pula semangat membara

tertimbun keresahan yang menjadi

tetapi

akan tetap mencariMu di pelataran hati.

7 ramadhan 1429 H

Hello world!

Oktober 15, 2008 oleh meghatruh

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!