lumut-lumut menjadi jejaring atas kesunyian batu-batu
rumah-rumah kepala suku telah lama tergusur peradaban zaman
batu-batu menangis
di sisa balai yang tergusur, kepul asap dupa memangil roh nenek moyang tetap saja membau.
tambat kelana penunggang kuda
menyetubuhi ilalang yang lama meranggas
batu-batu menyusun cemburu
memandang senja yang semakin lusuh.
pada malam derik kunang-kunang sebagai lentera kesunyian
dialog sunyinya menangisi kidung bebatuan yang gelap
warna angin menjadi sahabat tanpa makna
menjadi dingin yang menusuk jantung lumut-lumut malam.
oo batu-batu kelana, kemana resah hendak kau tambatkan
karena sampan telah lama berlayar, biduknya renta dimakan ombak galau
dan dermaga mejadi terasing atas galangan yang mencari sandar
bagai nisan kehilangan ziarah.
batu-batu sandarkan resahmu
pada jejaring cintaku.
29 okt 2008