Ibramsayah Amandit
Hikayat bulan membelah duka
kau hancurkan karang yang menjadi ombak
lantas kau berteriak tentang hidup yang kekal
sebagai tambatan menemu abadi.
Seraya dzikir tetap mengalun dari tatih langkahmu
menciumi senja yang luruh tiba-tiba
kau
pengelana di jalan yang lengang.
Dari lintasan barito yang menangis
kau kumandangkan rindu pada jiwa kelu
tepat di ranjang gunung apam
hingga semenanjung martapura, hulu sungai dan tanah datu muning.
Adalah langgam riak sungai barito
serta jajaran jungkung bibir rumah lanting di semenanjung sungai martapura
sebagai doa yang kau riwayatkan
ketika aku mulai menagis dalam ziarah kata-kata.
Ranah suaramu yang masih membara
kau riwayatkan tentang meratus
nagara dipa juga parang maya
aku tertunduk mengkaji alur dermagamu
Lantas aku jadikan biduk
untuk pelayaranku menuju abadi.
Dari alur barito,semenanjung martapura
nagara dipa, gunung apam
tepian meratus hingga ke tanah surga.
2008