tepat tengah malam, menyandarkan rindu pada gerimis yang sunyi. desah angin yang terpaut dingin mengantarkanku pada gemetar air suci. dinginnya nikmat, teriring do’a yang gontai menanti subuh datang. aku memelukMu di antara tangisku, erat.
lirih suara hatiku memuji, tapi nafasku masih saja selalu tersengal. sepenggal demi sepenggal aku mengatupkan dua lembar anugerah luka. hingga jiwa yang kosong melayang ke arah mata angin yang samar, itu adalah kiblat yang sempurna. subuh tetap saja masih terasa jauh.
tepat di antara salam, aku menenuMu, di atas jejaring antara nyata dan tidak. dan sejuk menyeruak dari pori-pori hati yang telah lama sembilu. adalah ziarah pertama kerinduanku.
selanjutnya aku mencari ziarah terakhir yang abadi, lewat bantaran air mata dalam do’a-do’a.
25 oktober 2008
Tentang Sebuah Kenangan.
lewat alunan lagu-lagu lama.
aku mengingat kembali masa kecil kita yang hampir terlupa. tiba-tiba wajahmu tersenyum membias dalam segelas tehku saat hari masih begitu pagi. lantas aku bergegas mengejarmu ke bekas pematang sawah, yang kini telah berubah menjadi swalayan termegah.
aku melihatmu tersenyum pada gambar-gambar iklan.
pohon akasia tempat kita berteduh dulu, telah menjadi pos satpam yang garang. bunyi baling-baling dari bambu yang dibuat ayahku telah menjelma sirine dengan lampu merah kuning. sungguh aku kecewa hanya menemu kenangan itu, begitu kelu.
jejak-jejak kita tak ada yang sempat tertinggal, aromanya pun tak mampu tertangkap. menjadi melodi yang meniriskan rindu, dari hamparan kenangan tentang kuning padi dan lebat buah mangga. yang selalu saja menjadi sebab kita menangis.
setelahnya kita akan berlari menembus takut. mencapai garis finish, adalah pelukan ibunda. nasehat yang menjadi nyanyi dalam gendang telinga kita. kau ingat, sesaat setelah senja berlalu semua telah kita lupa. begitu seterusnya.
kini
kenangan itu, terlupa bersama tuntasnya teh manisku di pagi-pagi sekali.
3 syawal 1429 H
Apakah Aku Si Camar
pada mulanya aku adalah kematian yang sunyi.
saat ditiupkan roh pengabdian aku adalah luka, menjelma burung camar di pelataran laut. menanti senja sebagai rumah kerinduan. dan angin malam akan menjadi kunang-kunang, sebab mereka adalah pertanda.
di sela karang legam aku mencoba mengaji laut kehidupan, lantas kupungut buih yang memelas. kurebahkan tangis di pasir menghampar, kuteriaki langit bisu. saat mencumbu bulan pucat, ketika tiris hujan mulai merintik. dan kunang-kunang akan lekas mengepak pergi.
malam menjadi sunyi, debur ombak menelan lengking serigala kelaparan, kubaringkan legamnya nasib pada lamunan, semakin meninggi. di langit bintang tetangis menatap remuknya nasib. siapa berduka. angin bertiup basah saat aku teteskan kedalaman air mata. belum lagi terasa lunas pengembaraan ini.
menjelang fajar aku di tengah laut kehidupan, gelombang menerjang bagai anak panah yang menghujam. perih. sayap-sayap camarku hanya igauan, aku tak mampu terbang menaklukkan laut kehidupan. terjerambab menjadi buih. tak lagi ada nyala yang membias menjadi kunang-kunang.
walau hanya sebagai pertanda arah pengembaraanku, membias ombak, menyetubuhi kerasnya laut kehidupan, meneriaki takdir, mengoyak belenggu pikir. sementara sayapku hanya igauan. yang lahir dari lamunan. tapi bukan sebuah pertanda penghabisan, karena besok pagi-pagi sekali aku akan menggambar takdir.
Oktober 2008