By meghatruh

Diary Tentang Cinta.

ini hanya tentang pengharapan, tapi sungguh aku hanya bagaiĀ  camar yang kehilangan arah mata agin. menerbang sayap-sayap yang hampir patah sebelum sempat berlabuh. tapi aku akan selalu mengejar dermagamu, walau badai akan selalau menghempaskanku ke runcing karang-karang hatimu. biarkan remuk membelah jiwaku yang semakin menua, asalkan aku mampu menisriskan kerinduan ini pada bayang tentangmu. dan semoga saja malam tidak cepat berlalu, sebelum terlunaskan.

sungguh
bila saja air mataku,
mamapu aku tiriskan di jiwamu
terasa lunas sudah kerinduan jiwa beku
yang lama menunggu bias tanpa pertanda.

ingin rasa hati selalu membuka jendela hatimu
saat pagi menjelang
dan kita akan menyeduh kopi di beranda
tanpa anak-anak.

menelanjagi hangat matahari
sebagai sebuah pertanda kerinduan
lalu kita akan membakarnya dengan bara yang lebih menggila
tentunya saat-saat kita di beranda.

di pelataran kupu-kupu berjingkat sendu
mencumbu kamboja, yang wanginya telah kita cacap bersama
ketika rembulan tepat di atas ubun
dan gerimis tak lagi mampu membendung cahayanya.

sungguh
bila saja air mataku
mampu aku tiriskan di jiwamu
lunas sudah kerinduan yang tertunda.

tak ada yang kelu kecuali mereka yang merindu, sebagai sebuah angan yang selalu menjadi pencapaian dan penghancuran. tentunya atas dirinya dan jiwanya yang malang, dan aku selalu saja menjadi salah satu pemandian kerinduan yang menumpuk-numpuk atas dirimu wahai kembang kamboja. malam menjadi tidak sempurna rasanya, ketika aku tak menatap dunia yang selalu masih berputar.

lantas perlunasan seperti apa yang ingi kau kirimkan, andai saja aku pulang terlalu cepat. sementara hari tak mampu lagi mengulang, merana bukan. tapi aku hanya mampu berharap suatu saat akan kau kirimkan karangan bunga saat-saat malam mulai menaruh rindu kepada bulan, karena aku akan menunggumu di pelataran langit. berlebihan bukan, tapi sungguh ini hanya sebuah pengharapan atas mimpi-mimpi yang tak lekas mau menjadi pasti.

kapan kau akan melunaskan kepastian itu. agar rindu tidak menjadi batu nisan, sementara lumut akan menari-nari di sela hujan yang meniris dari langit. aku tak mampu menghapus wajah jinggamu yang membias di setiap lipatan bajuku. sungguh merana bukan. dan air mataku hanya akan menjadi dongeng kesetiaan tanpa muara yang pasti.

kau tahu,
ini bukan jaman lampau yang harus dengan kata sandi, sebagai penyampai atas nama cinta yang telah terlalu lama menangis dalam jiwa bekuku. sampai arah mana aku harus menemu dermagamu. atau angin akan menghancurkan bidukku sebelun aku sempat menambatkan kapalku di pinggiran hatimu.

apakah kau tak sempat menangkap bayang layang-layang yang selalu aku terbangkan di belantara jiwamu. sebab itu adalah tanda yang aku kirimkan dari kedalam batin yang tidak pernah merasa terluka. kau tahu. aku menyusunya dengan mimpi-mimpi yang selalu saja terasa samar. tapi aku selalu tersenyum pada kedalaman kebencianmu.

hingga tangisku menjadi aliran mata air duka.masih.

2008

Tinggalkan Balasan